Minggu, 04 Juni 2017

Biografi

Ariyanti Prihatmi

Ariyanti kecil lahir pada tanggal 26 Mei 1975 di Magelang. Ia lahir dari pasangan suami istri bernama Sugiyanto dan Mundjayanah. Sang ayah berprofesi sebagai tentara, sementara ibunya berprofesi sebagai PNS. Ariyanti merupakan anak ke-dua dari lima bersaudara.

Ariyanti kecil dahulu tinggal di Perum Mujen karena ayahnya yang dulu berprofesi sebagai tentara. Ia dan saudaranya selalu berangkat sekolah dengan jalan kaki atau jika senggang sang ibu akan mengantarkannya mereka menggunakan vespa kesayangan keluarga. Karena orag tuanya saibuk bekerja, ia dan saudaranya membantu pekerjaan rumah setelah pulang sekolah. Mereka membagi pekerjaan yang harus dikerjakan masing-masing dengan adil. Mereka melakukan itu sampai menginjak remaja. Ariyanti kecil yang dahulu bersekolah di SD N Sumberejo, melanjutkan ke SMP Jenderal A.Yani dan berlanjut ke SMAN 1 Tidar Magelang.

Ariyanti remaja yang dulu sering sakit, mencari kegiatan untuk membuatnya sehat. Ia diam-diam berlatih taekwondo setiap sore tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ariyanti yang selalu giat dalam berlatih Taekwondo berangsur-angsur kesehatannya mulai membaik. Orang tua Ariyanti yang curiga pun, akhirnya tahu bahwa sang putri berlatih Taekwondo selama ini dan membuatnya bugar dan jarang sakit, malah mendukung kegiatan sang putri. Ia yang mendapat dukungan dari orang tuanya berlatih dengan giat dan selalu mengikuti lomba Taekwondo. Ariyanti yang sudah menjadi atlet Taekwondo, mulai melatih anak-anak yang lain untuk belajar Taekwondo di lapangan setiap sore.

Ariyanti remaja sudah menamatkan sekolahnya di SMAN 1 Tidar Magelang mulai melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu di Akademi Maritim Yogyakarta (AMY). Ia yang bersekolah di Akademi Maritim selalu menaiki kapal dan bertemu dengan orang dari belahan dunia. Hal itu pun yang membuat ia fasih berbahasa inggris yang menjadi keahliannya.

Ariyanti dewasa yang sedang berada di Yogyakarta bertemu dengan Budi Nugroho dan menjalin hubungan, dan berlanjut ke  jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai dua orang putri cantik yang bernama Sepna Ardianingtyas dan Azhar Attiqah Alliyah.

Setelah 12 tahu pernikahannya, ia berpisah dengan sang suami dan kembali ke Magelang yang sebelumnya ia tingga bersama suaminya di Karanganyar. Ia tinggal di Magelang bersama kedua orang tuanya dan anak-anaknya. Ia berkerja di Gardena Swalayan Magelang di bagian keamanan sampai sekarang.

Pemberhentian Terakhir

Pemberhentian Terakhir

Setelah melakukan kegiatan Pembelajaran Luar Sekolah (PLS),kami tiba dipemberhentian terakhir sebelum berhenti untuk makan malam, yaikni pantai di Joja bernama Pantai Baron. Kami disuguhi pemandangan yang indah berupa hamparan air yang dikelilingi tebing disetiap sisinya. Dipesisirnya juga terdapat beberapa kapal para nelayan yang dipinggirkan setelah digunakan. Pantai Baron merupakan salah satu objek wisata berupa pantai yang terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari wali kelas kami untuk diajak foto bersama. Sesaat setelah mencari, akhirnya kami menemukan Pak Triyono ( Wali Kelas kami) dan langsung mengajak beliau untuk foto bersama. Mungkin karena kami yang terlalu bersemangat untuk mengajak beliau, Pak Tri pun antusias dalam menanggapi permintaan kami. Dari yang berupa foto resmi sampai ke foto dengan gaya alay, kami lakukan dengan semangat. Sampai-sampai ada beberapa teman kami yang lain tertawa melihat kelakuan kami.

Setelah lelah berfoto dengan wali kelas, kami hanya menunggu sunset. Karena tidak ingin terkena air laut dan juga terlalu malas untuk berganti pakaian, akhirnya kami pun hanya duduk-duduk di pasir pantai atau kapal nelayan. Sesekali mengabadikan momen ini dengan kamera atau menjadi tukang foto dadakan untuk teman yang lain. Beberapa dari kami ada yang bermain sepak bola di pinggir pantai, dan ada juga yang naik ke atas tebing timur untuk melihat pemandangan dari atas melalui mercusuar dan berfoto disana.

Ada yang unik dari Pantai Baron. Mungkin karena air laut yang surut, timbul gundukan pasir seperti membentuk pulau tersendiri. Dari hasil itu, seperti terbentuk sungai yang mengalir ke tebing timur. Itu indah sekaligus menakjubkan. Karena terlalu terpesona dengan keunikan tersebut, sampai lupa untuk mengabadikan momen itu dan menjadi penyesalan setelah mengingatnya kembali.

Setelah puas dengan pantai, kami disuruh untuk berkumpul untuk melanjutkan perjalanan kembali. Saat ingin berkumpul dengan yan lain, kami merasa lapar. Radar lapar kami pun mencari warung untuk sekedar membeli cemilan untuk mengganjal perut diperjalanan sebelum berhenti untuk makan malam. Sadar bahwa tidak ada warung atau toko yang buka dan juga karena kami sampai di pantai agak sore. Akhirnya kami hanya bisa menghela nafas dan berbicara pada perut ‘ sabar ya, tunggu sebentar lagi dan jangan berbunyi’.

Kami pun langsung bergegas berkumpul dan langsung melanjutkan perjalana untuk makan malam sambil memegang perut menahan lapar.